Berangkat dari keprihatinan akan kondisi sejumlah gunung yang penuh sampah dan tulisan corat-coret, Luluk Kartikawati (23) menggagas aksi bersih-bersih dan melawan vandalisme. Kiprah wanita asal Sragen itu kini mulai diikuti banyak orang.

MENDAKI gunung digemari berbagai kalangan, terutama kaum muda. Pemandangan alam dan pengalaman baru merupakan dua dari berbagai tujuan yang hendak diraih para pendaki.

Sayang, masih banyak di antara mereka yang sekadar gagah-gagahan dan justru melupakan filosofi dari kegiatan kepecintaalaman itu. Tak sedikit pendaki yang menodai gunung dengan buang sampah sembarangan atau mencorat coret batu dan pohon. Miris dengan kondisi tersebut, terbersit keinginan Luluk Kartikawati untuk bersih-bersih dan mengurangi aksi vandalisme di gunung-gunung.

Duta Wisata Sragen 2015 itu memulai niatnya dengan membuat gerakan bernama Clean Art Vandalism on The Mountain atau biasa disingkat CAV OT Mountain. Gerakan tersebut kini mulai menjamur. ”Ide muncul spontan awal 2013, namun baru diwujudkan 2016. Kami kali pertama bikin gerakan bersih-bersih di Gunung Merapi dengan peserta sekitar 20 orang,” kata Luluk membuka percakapan.

Sejauh ini, ia belum mewujudkan gerakan tersebut dalam wadah komunitas. Kendati demikian, banyak orang tertarik bergabung. Mereka tidak hanya dari kawasan Solo Raya, tapi juga dari daerah lain. Mereka merasa tergerak karena mempunyai kesamaan misi. ”Tidak ada perekrutan resmi dan tidak ada ikatan. Sejauh ini kami komunikasi via Instagram.

Sekarang ada sekitar 20-an yang aktif,” tuturnya. Sejak lulus SMA, Luluk memang menyukai kegiatan alam bebas, terutama naik gunung. Namun ia, bukanlah aktivis atau anggota pecinta alam di kampusnya, yakni di fakultas pendidikan sebuah universitas swasta di Solo. Meski demikian, itu tidak menghalangi niat untuk mewujudkan cita-citanya. Bersenjata penghilang cat (paint remover), tiner, sikat baja, dan sejumlah perlengkapan lain, Luluk merasa menemukan kepuasan tersendiri sewaktu membersihkan gunung. ”Selain menghapus cat di bebatuan, kami juga bersihbersih gunung dan mencopoti stiker yang kerap menutupi tanda penunjuk arah,” kata dia.

Beragam pengalaman seru dan unik dialaminya. Suatu ketika, sewaktu membersihkan coretan, sejumlah pendaki malah melakukan aksi vandalisme tepat di sampingnya. Perempuan kelahiran 10 Agustus 1993 ini menyiapkan sendiri dana yang dibutuhkan.

Berkat kiprahnya, banyak taman nasional atau pengelola kawasan pendakian yang tidak memungut tarif saat Luluk dkk hendak memasuki area pegunungan. Sejumlah gunung sudah dijamah sukarelawan CAV OT Mountain, antara lain Merapi, Lawu, dan Ungaran. ”Yang paling susah dibersihkan itu cat pilox di bebatuan yang sudah menempel bertahuntahun. Selain di batu, banyak coretan di pos pendakian,” katanya lagi.

Segera Berakhir

Selain respons positif, Luluk juga kerap dicibir orang. Beragam tudingan diarahkan padanya, mulai cari muka, mencari keuntungan semata, dan tuduhan tak berdasar lainnya. Namun, perempuan yang kini sibuk mengajar di SD Katelan 4 Tangen, Sragen ini, cuek.

Menurutnya, menyadarkan orang Indonesia itu susah. ”Berbuat baik saja masih dipaido (dicela-Red). Saya nggak masalah, yang penting saya tidak cari keuntungan. Tidak ikut (bersih-bersih-Red) tidak apaapa, yang penting tidak ikut coret-coret,” imbuh Luluk.

Kendati dia sering berkegiatan di alam bebas, orang tuanya tidak khawatir. Terlebih setelah mereka mengetahui kegiatan positif yang dilakoni sang putri. Luluk belum berniat membuat komunitas terkait gerakannya tersebut.

Ia justru berharap gerakan ini segera berakhir. Artinya, para pendaki sudah sadar, sehingga tak ada lagi yang membuang sampah semau sendiri atau melakukan aksi vandalisme. ”Yang susah itu adalah memulai. Saya berharap semua gerakan ini segera selesai dan aksi vandalisme segera hilang. Gunung bukan tempat sampah. Jadi, setiap naik gunung, bawalah sampah turun sekalian,” ujarnya sembari mengingatkan tiga prinsip yang harus dipegang para pendaki: jangan mengambil apa pun selain gambar, jangan meninggalkan apa pun selain jejak, dan jangan membunuh apa pun selain waktu.

Share